Asma Bukan Alasan Tak Bisa Hidup Normal

May 02, 2018
Menjalani hidup dengan asma, tidak perlu khawatir tidak bisa hidup normal. Asma merupakan kondisi yang dapat dikendalikan asalkan pasien menerapkan disiplin terhadap anjuran dokter, baik dalam hal pengobatan, maupun pencegahannya. Seperti diketahui, asma merupakan penyakit yang hilang timbul, karena terjadinya radang kronik pada saluran napas, sehingga saluran napas menjadi hipersensitif terhadap sesuatu, misalnya makanan tertentu, kelelahan, terpapar debu/asap, infeksi, dan stres. Akibatnya saluran napas menyempit sehingga menimbulkan batuk dan sesak. "Asma memiliki episode kekambuhan, namun bisa dikendalikan agar tidak sering kambuh," demikian diungkapkan Dr Priyadi Wijanarko, Sp. P, dari RS Columbia Asia Semarang. Meski asma tidak bisa sembuh,  asal dengan kerjasama yang baik, pasien asma bisa hidup normal bahkan bisa lepas obat. "Kalaupun tidak bisa lepas obat, diharapkan cukup diobati dengan dosis terkecil, namun pasien tetap bisa hidup normal, dan tidak terkena efek samping obat. Jadi di sinilah peran obat menjadi sahabat bagi pasien," ungkap beliau gamblang.

Mengendalikan asma dalam jangka panjang adalah tujuan utama dalam pengobatannya, mengingat penyakit ini bisa kambuh kapan saja. Berkembang tanggapan di masyarakat bahwa penggunaan inhaler dalam jangka panjang adalah pertanda penyakit asma sudah berat.  "Semua itu tidak benar. Tiap penderita asma harus dapat menjalani kehidupan secara utuh tanpa dibatasi oleh penyakitnya tersebut. Untuk itu saya menyarankan obat jangka panjang yang kerjanya lokal yaitu obat semprot (inhaler) lebih dianjurkan. Obat semprot langsung menuju ke target organ, sehingga dosisnya jauh lebih kecil, jadi meski diberikan jangka panjang, sangat aman," tandasnya.

Bagi penderita asma sangat disarankan untuk mengenal gejala-gejala dini asma. "Adanya batuk dan sesak, dibarengi dengan mengi yang berulang, yang kebanyakan terjadi pada malam hari atau timbulnya keluhan batuk setelah olah raga/setelah kontak dengan zat tertentu atau flu/batuk yang berkepanjangan. Selain pengobatan secara benar dan efektif, penderita asma sangat dianjurkan untuk tetap berolahraga. "Tidak ada masalah untuk berolahraga (aerobic, jalan, lari, sepeda, tennis, renang dll) selama kondisi tetap terkontrol. Karena berdasarkan penelitian, minimal olah raga seminggu 3 kali, dan dilakukan minimal setengah jam akan memperkuat otot-otot napas dan menurunkan risiko asma kambuh," jelasnya.

Selain itu, pemeriksaan faal/kerja paru-paru dengan spirometri juga sangat dianjurkan, "alat ini untuk mengukur derajat pengembangan paru-paru, juga mengetahui apakah ada penyempitan saluran napas," ungkapnya. Biasanya pasien akan diminta untuk bernapas beberapa kali di dalam mesin tersebut guna mendapatkan data yang konsisten.
Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui derajat penyempitansaluran napas yang menjadi ciri khas asma, sehingga dapat ditentukan jenis dan dosis obat yang pas. Pemeriksaan ini juga dipakai untuk evaluasi perbaikan fungsi paru selama pasien menjalani pengobatan asma. Karena bila keluhan napas tidak dijumpai, pemeriksaan fisik parunya normal dan fungsi paru normal / membaik, maka secara berkala dosis obat dapat diturunkan setengah dosisnya.

Demikian dilakukan evaluasi berkala sampai stop obat / dosis terendah obat. Vaksinasi sangat dianjurkan untuk penderita penyakit kronik pernapasan (termasuk asma) untuk mencegah kekambuhan / serangan akut asma. Pastinya pencegahan terhadap alergi perlu diperhatikan karena selain infeksi (virus/bakteri), alergi juga sangat berpengaruh sebagai pencetus kekambuhan asma.
 
Sumber:
dr. Priyadi Wijanarko, SpP
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang

Jl. Siliwangi No.143
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com