Endodontic: Perawatan Saluran Akar Gigi

January 30, 2019



Sekitar 80 persen pasien datang dengan kondisi gigi berlubang baik disadari maupun tidak disadari oleh pasien. Gejala yang terjadi apabila lubang telah mencapai saraf gigi adalah sakit yang terjadi secara tiba-tiba, cenat-cenut, dan seringkali rasa sakit sampai telinga dan kepala. Pada kondisi seperti ini pasien lebih sensitif, cepat marah, susah tidur, susah makan karena giginya sakit. Hal tersebut mengakibatkan kualitas hidup akan menurun. 

Untuk mengeliminasi perasaan tidak nyaman tersebut hanya ada dua opsi perawatan gigi yaitu dicabut atau dilakukan perawatan saluran akar gigi atau dikenal juga dengan istilah perawatan endodontic. drg. Meilina Suharyani, Sp.KG dari RS Columbia Asia Semarang mengatakan perawatan saluran akar gigi atau endodontic merupakan perawatan yang bertujuan mempertahankan atau melestarikan gigi pada rongga mulut supaya tetap dalam posisinya. 

"Karena apalagi gigi depan dicabut, secara estetis tidak bagus. Sementara gigi belakang berfungsi untuk pengunyahan sehingga apabila gigi dicabut akan mengganggu fungsi pengunyahan dan gigi tidak enak untuk makan," jelas drg. Meilina. 

Dijelaskan, tahapan perawatan saluran akar gigi diawali dengan membuka akses ke saluran akar, alat pelubangan seperti jarum dimasukkan ke dalam saluran akar sampai tepat di ujung akar, setelah bersih dan steril, saluran akar akan diisi bahan pengisi.  

"Dalam perawatan saluran akar gigi dibutuhkan sebanyak 3-4 kali terapi untuk satu gigi. Untuk gigi depan dengan satu saraf bisa membutuhkan waktu proses terapi seperempat jam, dan gigi geraham dengan empat saraf bisa membutuhkan waktu setengah sampai satu jam," ungkapnya menambahkan. 

Pembuatan restorasi gigi pasca perawatan saluran akar dilakukan setelah tidak ada keluhan subjektif dari pasien. Gigi yang sudah dilakukan perawatan saluran akar memerlukan restorasi yang tepat agar menambah kekuatan dari gigi yang telah selesai dilakukan perawatan saluran akar. 

Restorasi gigi pasca perawatan saluran akar harus kuat, dan mampu mengakomodir kekuatan gigi saat mengunyah dengan estetika yang baik. Restorasi dapat berupa crown/mahkota, inlay atau onlay tergantung kondisi gigi tersebut. Karena itu, kembali ditegaskan drg. Meilina sangat dianjurkan memeriksakan kesehatan gigi setiap enam bulan sekali untuk pencegahan. 

Dalam kesempatan yang sama, drg. Meilina juga memperkenalkan tren perawatan gigi untuk estetis gigi yaitu Veneer. Veneer Gigi memang tengah popular di Indonesia dan menjadi bagian dari gaya hidup saat ini. Veneer gigi adalah lapisan tipis material yang ditempel permanen di permukaan gigi. Pelapisan permukaan gigi bagian depan dengan bahan lebih bagus dan putih.

Tujuannya bermacam-macam, di antaranya untuk memutihkan gigi agar tampak bersinar, meratakan posisi gigi yang tidak rapi, dan memperbaiki gigi yang patah atau keropos. "Gigi dirapikan sedikit lalu gigi dilapisi dengan Veneer yang terbuat dari bahan porcelain," jelas drg. Meilina. Bahan porcelain ini aman bagi gigi dan juga tubuh, tambahnya. 

Gigi yang dirawat akan dikurangi ketebalannya untuk tempat dipasangnya veneer. Ini tujuannya agar gigi tidak terlihat terlalu tebal atau maju setelah dipasang veneernya nanti. "Gigi dikecilkan sedikit, agar gigi setelah dilapisi veneer bisa kembali ke bentuk semula," jelas drg. Meilina.

Sumber:
drg. Meilina Suharyani, Sp.KG
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang


Jadwal Praktek:
Senin – Jumat : 09.00 – 12.00 WIB