Hati-hati sindroma karoshi pada para pekerja

December 31, 2015



Di zaman yang semakin maju ini setiap orang tentunya semakin berlomba-lomba di dalam pekerjaannya demi mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak jarang pula para pekerja, yang umumnya dikenal sebagai salary-man, rela untuk bekerja lembur demi peningkatan performa. Di balik semangat kerja mereka, terdapat pula ancaman kesehatan yang bahkan bisa berakibat kematian.

Apa itu Sindroma Karoshi?

Sindroma Karoshi diambil dari Bahasa Jepang yang dapat diartikan sebagai “Death from Overwork” atau kematian karena pekerjaan.

Umumnya sindroma ini menyerang karyawan di usia yang masih sangat produktif. Kasus pertama sindroma karoshi dilaporkan pada tahun 1969 di mana terjadi kematian pada laki-laki usia 29 tahun, seorang pegawai perusahaan surat kabar terbesar di Jepang, dengan penyebab kematian berupa stroke. Kasus ini sempat tertidur dan kemudian kembali menghangat sekitar tahun 1980, di mana banyak kematian mendadak pada pegawai yang saat itu berada dalam puncak karier dengan usia yang masih relatif muda TANPA disertai gejala sebelumnya. Masalah kematian mendadak ini kemudian menjadi fenomena serius bagi Kementrian Kesehatan di Jepang karena semakin banyak kasus yang muncul, terutama diakibatkan oleh jam lembur yang berlebihan demi peningkatan karier walaupun mereka sering tidak dibayar. Setelah diteliti lebih lanjut, penyebab kematian terbesar adalah stroke dan serangan jantung mendadak. Sebagai contoh, Tn. X yang bekerja di perusahaan makanan ringan meninggal pada usia 34 tahun karena serangan jantung setelah bekerja selama 110 jam per minggu, Tn. Z seorang sopir bus meninggal pada usia 37 tahun karena stroke setelah bekerja selama 3000 jam per tahun, Nn. D seorang perawat usia 22 tahun meninggal karena serangan jantung setelah bekerja berturut-turut selama 34 jam 5 kali dalam 1 bulan.

APA PENYEBABNYA?

Jika ditelisik dari penyebab utama sindroma Karoshi, yaitu penyakit jantung dan stroke, maka hal yang paling utama untuk diketahui adalah apakah seseorang tersebut memiliki faktor resiko yang dapat meningkatkan angka kejadian kematian. Faktor resiko tersebut dapat dibagi menjadi faktor resiko yang tidak dapat diubah, yaitu usia, ras, jenis kelamin, keturunan, serta faktor resiko yang dapat diubah seperti kebiasaan merokok, gangguan lemak (kolesterol dan trigliserida yang tinggi), obesitas, kurang olah raga, diabetes melitus tipe 2, serta stress. Stress di sini termasuk stress yang diakibatkan oleh tekanan pekerjaan (termasuk stress fisik karena bekerja lembur terus menerus dengan istirahat yang kurang) dan menyebabkan munculnya hormon-hormon stress yang memicu terjadinya kerusakan pada sistem-sistem keseimbangan tubuh dan organ-organ tubuh.

Adanya gangguan lemak, hipertensi, diabetes, serta obesitas juga akan menyebabkan seseorang terkena sindroma metabolik. Sindroma metabolik ini terdiri dari kumpulan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme seperti penyumbatan jantung dan otak, kanker, gangguan dalam berpikir hingga kepikunan dini, gangguan hati di mana hati akan tertutup oleh lemak, serta pada wanita dapat pula berakibat gangguan pada sistem reproduksi. Masalah yang umum terjadi adalah penyakit-penyakit tersebut jarang menimbulkan gejala awal sehingga sering kali seseorang terlambat memeriksakan kesehatannya dan baru datang ke dokter setelah terkena serangan yang fatal.

BAGAIMANA PENCEGAHANNYA?

Tentunya kita sering mendengar bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Masalah utama yang masih berlangsung di Indonesia adalah kurangnya pemeriksaan dini serta pola pikir di mana seseorang tidak akan berobat sebelum sakit. Jika dilihat melalui proses terjadinya penyakit, penyumbatan pembuluh darah jantung dan otak yang berakibat fatal ini sebenarnya terjadi secara bertahap, diawali dari terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah (paling umum berasal dari lemak) yang kemudian semakin membesar hingga pada akhirnya buntu dan menyebabkan darah tidak dapat mengalir. Hal itulah yang pada akhirnya menyebabkan kematian mendadak. Pemeriksaan teratur seperti medical check-up, screening pembuluh darah jantung dan otak melalui MRI atau CT-Scan, pemeriksaan jantung dengan test echo, treadmill, dan kateterisasi jantung dapat melihat adanya penyumbatan awal pada pembuluh darah jantung dan otak. Konsultasi untuk memeriksakan kesehatan ke dokter spesialis jantung, saraf, atau penyakit dalam dapat memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan pada saat itu. Olahraga teratur minimal 30 menit, 3x per minggu dapat menurunkan faktor resiko terjadinya serangan mendadak. Pola makan dengan diet rendah lemak, gula, dan garam terutama pada orang-orang yang memiliki faktor resiko terjadinya sindroma metabolik dapat mengurangi angka kejadian serangan. Istirahat dan tidur yang teratur juga memegang peranan penting untuk menurunkan faktor stress. Bagi perusahaan juga wajib melakukan pemeriksaan kesehatan rutin bagi karyawannya dan pembatasan jam kerja secara rasional. Selain itu, rekreasi dan meditasi termasuk dengan beribadah juga dapat menurunkan stress yang bertumpuk selama bekerja.


dr. Aditya Nugraha - General Practitioner

Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Jl. Siliwangi No. 143, Semarang
Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com