Kenali Gejala Kusta Sejak Dini dan Tangani Hingga Tuntas

January 29, 2018
Kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni "kustha" berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga lepra. Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae. Kusta menyerang terutama kulit dan saraf. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf, dan men gakibatkan kecacatan anggota gerak dan kebutaan jika mengenai mata. Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ketiga kasus kusta terbanyak setelah India dan Brazil. India, Brazil dan Indonesia merupakan kontributor utama pada total kasus baru di dunia. Angka kejadian kusta di Indonesia pada tahun 2013 berkisar 13.146 kasus dengan angka penemuan kasus baru: 5,29/100.000 dan tiga provinsi masih memiliki angka kasus kusta tinggi (lebih dari 1000 kasus/tahun) yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.

Mycobacterium leprae berbentuk batang biasanya hidup berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu. Kuman ini belum dapat dikultur di laboratorium. Kuman ini dapat menular ke manusia melalui kontak langsung lama dan berulang-ulang dengan penderita dan melalui pernapasan. Bakteri kusta ini mengalami proses perkembangbiakan dalam waktu 2-3 minggu dan dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia selama 9 hari. Masa inkubasi penyakit 2-5 tahun. Setelah 5 tahun, tanda-tanda penderita kusta mulai muncul seperti bercak putih atau merah disertai mati rasa. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan perjalanan penyakit terus berlangsung dan mengakibatkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata.

Tanda-tanda seseorang menderita kusta antara lain bercak putih pada kulit seperti panu, awalnya hanya sedikit lama-kelamaan semakin lebar dan banyak, bintil-bintil kemerahan tersebar di kulit, bagian kulit tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan atau mati rasa pada anggota badan, pada kasus yang berat dapat ditemukan muka berbenjol-benjol dan tegang disebut facies leonine atau menyerupai muka singa. Gejala kusta sangat variatif sehingga tidak semua selalu ditemukan. Sebaiknya waspada jika ada anggota keluarga menderita bercak putih pada kulit disertai mati rasa, luka tak kunjung sembuh dalam jangka waktu lama dan tidak terasa sakit jika ditekan.

Diagnosis kusta umumnya berdasarkan pemeriksaan fisik yaitu identifikasi dua dari empat tanda khas kusta dan didukung pemeriksaan penunjang kerokan kulit. Empat tanda khas kusta meliputi mati rasa, pembesaran saraf tepi pada daerah tertentu, kelainan kulit berupa bercak putih dan ditemukan kuman kusta pada pemeriksaan kerokan kulit. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, WHO mengklasifikasi kusta menjadi 2 tipe. Tipe pertama yaitu kusta multibasiler atau sering dikenal kusta basah ditandai bercak putih kemerahan tersebar atau merata di seluruh badan disertai penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak kulit lebih dari 5 buah serta hasil pemeriksaan kerokan kulit ditemukan kuman kusta.  Tipe ini sangat mudah menular. Tipe ke2 yaitu pausibasiler atau kusta kering ditandai bercak putih seperti panu dan mati rasa, bercak berjumlah 1-5 buah serta hasil pemeriksan kerokan kulit tidak ditemukan kuman kusta. 

Program Multidrug therapy (MDT) untuk pengobatan kusta mulai direkomendasikan oleh WHO sejak tahun 1982. Untuk kasus kusta kering, terapi terdiri atas rejimen MDT 6 dosis yang dapat diberikan sampai jangka waktu 9 bulan. Untuk kasus kusta basah, terapi terdiri atas rejimen MDT 12 dosis dapat diberikan sampai jangka waktu 18 bulan. Hingga saat ini belum ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Diagnosa dan pengobatan dini dapat mencegah sebagian besar cacat fisik yang disebabkan oleh kerusakan saraf oleh kuman kusta.

Salah satu masalah penghambat penanggulangan kusta adalah stigma penyakit kusta, penderita dan keluarganya. Pandangan negatif dan perlakuan diskriminatif terhadap penderita kusta sehingga berdampak negatif secara psikologis bagi penderita, frustasi bahkan upaya bunuh diri. Stigma kusta menyebabkan penderita enggan berobat karena takut keadaannya diketahui masyarakat sekitar. Hal tersebut tentu mengakibatkan mata rantai penularan kusta terus berlanjut dan menyebabkan dapat timbulnya kecacatan bagi si penderita. Dengan mengetahui penyebab, penyebaran penyakit dan pengobatan tepat, kusta dapat disembuhkan dengan tuntas sehingga tidak perlu timbul leprophobia (ketakutan berlebihan terhadap penyakit kusta dan penderitanya). Dengan dukungan keluarga dan masyarakat sekitar, diharapkan penderita dapat berobat secara teratur sehingga mendukung keberhasilan proses penyembuhan kusta dan pemutusan rantai penularan.

Sumber:
 
Dr Silvi Suhardi, SpKK
Rumah Sakit Columbia Asia Pulomas
Jl. Kayu putih Raya No.1
Pulomas, Jakarta, Indonesia
Kode pos 13210
Tel. +6221 2945 9999
E: customercare.pulomas@columbiaasia.com