Malaria pada Masa Kehamilan

April 26, 2018


Sampai saat ini malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara-negara seluruh dunia, baik didaerah tropis maupun sub tropis, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari Genus plasmodium. Lima spesies yang ditemukan pada manusia adalah Plasmodium Vivax, P. ovale, P. malariae, dan P. knowlesi.

Malaria menyerang semua masyarakat tanpa membedakan umur dan jenis kelamin, tidak terkecuali wanita hamil merupakan golongan yang rentan. Di daerah endemik malaria wanita hamil lebih mudah terinfeksi parasit malaria dibandingkan dengan populasi umumnya termasuk juga dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Selain itu, wanita hamil juga mudah terjadi infeksi malaria yang berulang dan komplikasi berat yang mengakibatkan kematian. Malaria pada kehamilan dapat disebabkan oleh kelima spesies plasmodium, tetapi plasmodium falciparum merupakan parasit yang dominan dan mempunyai dampak paling berat terhadap jumlah kasus terkena penyakit dan kematian ibu berserta janinnya.
 
Pada daerah endemik, data menunjukkan jutaan wanita hamil terinfeksi malaria dan seribu orang meninggal setiap tahunnya oleh akibat secara langsung maupun tidak langsung. Pada daerah endemik bayi yang terlahir dari ibu yang terinfeksi parasit malaria (apakah disertai gejala atau tidak) mengalami berat badan lahir rendah yang juga meningkatkan risiko kematian bayi. Oleh karena itu, mengobati wanita hamil yang terinfeksi malaria adalah sangat penting. Namun sayangnya harga yang murah, keamanan dan efektifitas obat secara luas terhadap P.falciparum telah berkurang, dan juga terhadap P.vivax pada beberapa daerah.

Pengaruh Malaria pada Masa Kehamilan

Pengaruh malaria pada kehamilan antara lain bisa terjadi pada:

1. Ibu Hamil
Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan, tergantung pada tingkat kekebalan seseotrang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah kehamilan). Ibu hamil dari daerah endemi yang tidak mempunyai kekebalan dapat menderita malaria klinis berat sampai menyebabkan kematian. Di daerah endemisitas tinggi, malaria berat dan kematian ibu hamil jarang dilaporkan. Gejala klinis malaria dan densitas parasitemia dipengaruhi paritas, sehingga akan lebih berat pada primigravida (kehamilan pertama) daripada multigravida. Pada ibu hamil dengan malaria, gejala klinis yang penting diperhatikan ialah demam, anemia, hipoglikemia, edema paru akut dan malaria berat lainnya.

2. Janin
Plasenta juga berfungsi sebagai “Barrier” (penghalang) terhadap bakteri, parasit dan virus. Karena itu ibu terinfeksi parasit malaria, maka parasit akan mengikuti peredaran darah sehingga akan ditemukan pada plasenta bagian maternal. Bila terjadi kerusakan pada plasenta, barulah parasit malaria dapat menembus plasenta dan masuk kesirkulasi darah janin, sehingga terjadi malaria
 
Kekebalan ibu berperan menghambat transmisi parasit kejanin. Oleh sebab itu pada ibu-ibu yang tidak kebal atau dengan kekebalan rendah terjadi transmisi malaria ke janin, walaupun mekanisme transplasental dari parasit ini masih belum diketahui.

Pengobatan Malaria pada Ibu Hamil

Pengobatan malaria di Indonesia menggunakan obat kombinasi. Yang dimaksud dengan pengobatan kombinasi malaria adalah penggunaaan dua atau lebih obat anti malaria yang sesuai, bersinergi dan berbeda cara terjadinya resistensi. Tujuan terapi kombinasi ini adalah untuk pengobatan yang lebih baik dan mencegah terjadinya resistensi plasmodium terhadap obat anti malaria.
 
Pada prinsipnya pengobatan malaria pada ibu hamil sama dengan pengobatan pada orang dewasa lainnya. Perbedaannya adalah pada pemberian obat malaria berdasarkan usia kehamilan.
 
Sebagai kelompok yang berisiko tinggi pada ibu hamil dilakukan penapisan/skrining terhadap malaria yang dilakukan sebaiknya sedini mungkin atau begitu ibu tahu bahwa dirinya hamil. Pada fasilitas kesehatan, skrining ibu hamil dilakukan pada kunjungannya pertama sekali ke tenaga kesehatan/fasilitas kesehatan. Selanjutnya pada ibu hamil juga dianjurkan menggunakan kelambu ber insektisida setiap tidur.

Kontrol Malaria pada Masa Kehamilan

Kontrol malaria perlu dilakukan terutama saat kehamilan. Hal yang dapat dilakukan, antara lain:
 
1. Kemoprofilaksis
Strategi kontrol malaria saat ini untuk kehamilan masih merupakan pemberian kemoprofilaksis anti malaria yang rutin yaitu klorokuin pada setiap wanita hamil dalam daerah endemik malaria. Beberapa penelitian menunjukan bahwa kemoprofilaksis dapat mengurangi anemia pada ibu dan menambah berat badan lahir terutama pada kelahiran pertama. Resiko malaria dan konsekuensi bahayanya tidak meningkat selama kehamilan kedua pada wanita yang menerima kemoprofilaksis selama kehamilan pertama.
 
Pada daerah endemisitas tinggi, infeksi malaria selama kehamilan menyebabkan rendahnya berat bayi lahir. Kemoprofilaksis yang diberikan selama kehamilan dapat meningkatkan berat kelahiran rata-rata, terutama pada kehamilan pertama dn menurunkan tingkat mortalitas bayi kira-kira 20%. Rata-rata bayi yang dilahirkan pada kehamilan pertama bagi ibu yang menerima kemoprofilaksis lebih tinggi daripada berat bayi yang ibunya tidak menerima kemoprofilaksis. Kelahiran mati dan setelah mati lahir lebih kurang pada bayi dan ibu-ibu yang menerima kemoprofilaksis dibandingkan denghan bayi dari ibu hamil yang tidak mendapat kemoprofilaksis.
 
2. Kemoterapi
Kemoterpi tergantung pada diagnosis dini dan pengobatan klinis segera. Kecuali pada wanita yang tidak kebal, efektifitas kemoterapi pada wanita hamil tampak kurang rapi karena pada wanita imun infeksi dapat berlangsung tanpa gejala. Pada wanita dengan kekebalan rendah, walaupun dilakukan diagnosis dini dan pengobatan segera ternyata belum dapat mencegah perkembanagan anemia pada ibu dan juga berkurangnya berat badan lahir bayi.
 
3. Mengurangi Kontak dengan Vektor
Mengurangi kontak dengan vektor seperti insektisida, pemakaian kelambu yang dicelup dengan insektisida dapat mengurangi infeksi malaria. Pada wanita hamil di Thailand dilaporkan bahwa pemakaian kelambu efektif dalam mengurangi anemia maternal dan parasitemia densitas tinggi, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan berat badan lahir rendah. Selain itu juga dianjurkan pemakaian kawat nyamuk pada pintu-pintu dan jendela-jendela, tinggal di dalam rumah selama jam-jam gigitan nyamuk (mulai senja atau sore hari), membunuh nyamuk dewasa dengan insektisida, membunuh jentik nyamuk.
 
4. Vaksinasi
Target vaksin malaria antara lain mengidentifikasi antigen protektif pada ketiga permukaan stadium parasit malaria yang terdiri dari sporozoit, merozoit, dan gametosit. Kemungkinan penggunaan vaksin yang efektif selama kehamilan baru muncul dan perlu pertimbangan yang kompleks. Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan vaksin untuk mencegah malaria selama kehamilan, yaitu :
a. Tingkat imunitas sebelum kehamilan
b. Tahap siklus hidup parasit
c. Waktu pemberian vaksin.
 

Sumber:
dr. Franciscus Ginting, Sp.PD-KPTI
Rumah Sakit Columbia Asia Medan

Jl. Listrik No. 2A
Medan, Sumatera Utara, Indonesia
Kode Pos 20112
Tel. +6261 4566 368
E: customercare.medan@columbiaasia.com