Mendengkur Bisa Mengakibatkan Kematian

March 27, 2018
Tidur ngorok atau mendengkur biasanya diindikasikan sebagai tidur yang nyenyak. Pemahaman ini sudah berlaku umum di masyarakat. Orang yang tidur sampai mendengkur berarti dianggap benar-benar sudah tidur. Semakin keras suara dengkuran, semakin pulas pula tidurnya. Mendengkur atau ngorok adalah hal biasa yang sering kita temui sehari-hari, bahkan mungkin kita sendiri yang sering ditegur teman tidur, bahwa kita ngorok dan mengganggu teman tidur kita. Tetapi tahukah Anda bahwa tidur mendengkur atau ngorok bisa mengakibatkan timbulnya suatu penyakit tertentu bahkan bisa menyebakan kematian?

Seperti yang diungkapkan oleh Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan dan Bedah Kepala Leher  RS Columbia Asia Dr. Henny Kartikawati, SpTHT-KL, menjelaskan bahwa mendengkur adalah keluarnya suara getar, serak, desah, desis, atau dengus ketika seseorang terlelap tidur. Mendengkur merupakan gejala umum yang kebanyakan terjadi pada kaum laki-laki. Hampir separuh pria mengalami tidur ngorok dan hanya sekitar seperempat wanita yang mendengkur. Hal ini disebabkan karena saluran udara pernapasan pria lebih sempit dibandingkan wanita.

“Saat ini masyarakat menganggap ngorok adalah hal biasa, tapi sesungguhnya ngorok bukan hal normal, ngorok bahkan bisa memperpendek umur. Kenapa memperpendek umur?. Hambatan pernafasan yang terus menerus bisa mengakibatkan gangguan jantung, hipertensi, ngantuk di siang harinya (mengemudi ngantuk membahayakan jiwa). Jika jenis ngoroknya tidak sampai level membahayakan jiwa atau memperpendek umur, yaitu ngorok tanpa hambatan nafas yang hanya mengganggu kenyamanan tidur pasangan tidurnya. Radang tenggorok kronis, dahak yang selalu ada tiap pagi dan mulut yang kering kerap kali juga disebabkan karena dengkur. Jadi jika dengkurnya tidak diselesaikan maka kondisi tenggorok yang tidak pernah nyaman akan terus berulang terjadi,”terangnya.

Selain itu, menurut Henny, yang harus diwaspadai, ngorok bahkan dapat menimbulkan kematian mendadak karena sleep apnea (henti nafas saat tidur). Sleep Apnea adalah berhentinya nafas sekitar 10 detik - 1 menit saat tidur mendengkur. Ini artinya terjadi hambatan aliran oksigen ke otak kita dan akhirnya kalau otak kita kekurangan oksigen terjadilah kerusakan pada otak. Bayangkan jika dalam tubuh seseorang terjadi henti nafas sesaat tentunya oksigen yang keotak menurun, disaat itulah seseorang sedang tertidur nyenyak terbangun secara tersentak yang dikarenakan otak tiba-tiba terangsang untuk membangunkan  karena stok oksigen yang terhambat.
“Pada saat setiap terjadi ngorok atau mendengkur terjadi seperti tercekik atau keselek ini harus diwaspadai karena pada saat itulah terjadi berhentinya aliran nafas (oksigen) ke otak kita. Kerusakan yang terjadi mungkin tidak secara langsung dirasakan, namun ketika hal ini terjadi terus menerus maka akan terjadi kerusakan akibat kekurangan oksigen akan membuat banyak sel otak yang mati. Kerusakan otak akan mengakibatkan pada penurunan kualitas otak sendiri diantaranya adalah mudah lupa ingatan, terjadi gangguan kematian sel otak, gangguan memory dan lain sebagainya,”jelasnya.

Snoring atau mendengkur hanya akan muncul jika ada hambatan aliran pernafasan, bisa terhambat di hidung, di mulut dan atau di tenggorok. Tepatnya lokasi mana yang menimbulkan bunyi dan menghambat pernafasan tersebut perlu pemeriksaan teliti seorang spesialis THT. Pemeriksaannya sangat variatif. Secara pemeriksaan fisik bisa diperkirakan letak hambatan pernafasan, misalnya adalah pada Concha hipertrophy (kerang hidung yg besar), tonsil hipertrophy (amandel yang besar), lidah besar, kegemukan (obesitas) akibatnya  lemak di dinding tenggorokpun  menebal sehingga rongga aliran nafas menjadi sempit bisa menghambat pernafasan. Langit langit tenggorok yang kendor dan anak tekak (uvula) yang panjangpun bisa menimbulkan bunyi pada dengkur.

“Kita simpukan saja, bahwa obstructive sleep apnea (ngorok yang sampai menghambat aliran nafas) adalah penyakit struktur yang hanya bisa diatasi dengan melonggarkan struktur yang menyumbat tadi. Misal karena kerang hidung besar maka bisa dilakukan concha reductie atau conchotomy untuk mengecilkannya. Bila yang masalah adalah amandel yang besar maka pengangkatan amandel adalah solusi. Bila kegemukan maka solusinya menguruskan badan. Bila langit-langit dan anak tekak yang endor solusiya UPPP (uvulo pharyngo palato plasty). Besarnya lidah bisa diatasi dengan operasi tongue base channeling (mengkerutkan basis lidah),”ungkap dokter yang murah senyum ini,”ungkapnya.
Sedangkan untuk penanganannya, pada dengkur yang sampai menghambat pernafasan ini tidak hanya dengan cara operasi. Penggunaan alat seperti chin retractor, mouth piece tounge device, CPAP (continuous positive airway pressure) adalah pilihan disesuaikan dengan di level mana terjadi hambatan pernafasan pada penderita. Bila cara penggunaan alat-alat bantu tersebut masih belum menyamankan pasien dan pasangan tidur, maka tidakan operatif adalah solusi.

“Operasi untuk masalah obstuructive sleep apnea saat ini setelah ditemukan teknologi plasma coblation, bukanlah operasi yang berbahaya. Alat plasma coblation ini memiliki triple function pada satu ujung (sucction, controlled ablation, dripping NaCl), akibatnya hasil potongannya bisa dibilang tidak berdarah, tidak terbakar (karena hanya 40 derajat celcius) dan endingnya terbentuk pengkerutan. Pengkerutan untuk kerang hidung yang besar, langit langit tenggorok yang kendor dan basis lidah yang besar adalah hal yg kita inginkan untuk memperlebar jalan nafas pada kasus dengur karena hambatan pernafasan. Dan saat ini di negara maju, alat plasma coblation ini sudah sangat biasa digunakan untuk operasi pengangkatan amandel disebabkan tingkat keamanannya yang tinggi. Operasi UPPP (uvulo pharyngo palato plasty) juga sangat terbantu jika menggunakan alat ini,”jelasnya.
Memang, mendengkur selama ini dianggap sebagai suara yang mengganggu. Di lingkungan pergaulan, ngorok selalu menjadi bahan lelucon. Tetapi dengan banyaknya data penelitian yang terus bertambah, suara ngorok tak dapat lagi kita abaikan. Para ahli kesehatan sudah mulai melihat dengkuran sebagai salah satu faktor risiko penyakit yang sejajar posisinya dengan hipertensi atau peningkatan kadar kolesterol.

Akhir kata, amati gaya dengkur pasangan tidur anda, kalau perlu videokan kemudian berkonsultasilah dengan dokter THT, dokter jantung atau dokter paru. Mereka akan memberikan penjelasan terkait dengkur pasangan anda. Resiko kesehatan yang bisa muncul akibat dengkur ini, harus dilihat kasus perkasus karena masing-masing pendengkur permasalahannya bisa berbeda-beda dan penanganannya juga berbeda-beda. Bahkan, jika Anda menemukan pasangan, rekan atau kerabat yang mendengkur, peringatkan. Dengan demikian Anda telah menyelamatkan nyawanya.


Sumber:
Dr. Henny Kartikawati, Sp.THT-KL
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Jl. Siliwangi No.143
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com