Mengenal Pentingnya Deteksi Dini Kanker pada Anak

February 19, 2019


Penyakit kanker pada anak, yang biasa disebut juga dengan tumor ganas, adalah penyakit yang dapat diturunkan dan tidak menular akibat pembelahan sel tubuh yang berlebihan. Penyakit kanker pada anak dapat muncul dari berbagai sel dan dapat dibagi menjadi penyakit keganasan darah dan tumor padat. Keganasan darah, terutama leukemia, merupakan jenis yang paling sering dijumpai pada anak, diikuti oleh keganasan di susunan saraf pusat. Penyakit kanker dapat diderita oleh anak mulai usia bayi hingga remaja. Beberapa kanker pada anak dapat diobati dengan kemoterapi atau radioterapi, dan memberikan respon yang baik terutama bila dilakukan pada stadium awal.

Kanker anak merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di negara maju setelah kecelakaan. Antara tahun 2001 sampai 2010, dari 1 juta anak, dijumpai 140,6 kasus keganasan baru pertahunnya. Di Amerika Serikat, kasus kanker baru pada anak dilaporkan sebesar 14.000 kasus pertahun. Angka kejadian tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan kemajuan teknologi di dunia kedokteran. Pada stadium lanjut, kondisi telah memburuk karena penyakit telah menyebar ke berbagai organ tubuh. Tubuh anak akan sulit menerima pengobatan dan efek samping dari pengobatan tersebut. Hal ini akan mempersulit tatalaksana dan memperburuk kondisi pasien. Angka kematian sangat tinggi pada kondisi tesebut.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan deteksi dini kanker pada anak. Semakin cepat keganasan terdeteksi, maka angka harapan hidup juga semakin tinggi. Gejala dan tanda kanker pada anak memang sering kali sulit dikenali karena menyerupai tanda dan gejala penyakit lainnya. Beberapa tanda dan gejala yang dapat dijumpai pada stadium awal keganasan antara lain:

1. Dijumpai mata anak yang terlihat seperti mata kucing. Umumnya, kondisi tersebut merupakan tanda awal kanker di mata.


2. Anak sering mengeluhkan demam yang bersifat hilang timbul tanpa ada sumber infeksi yang jelas. Hal ini harus dicurigai sebagai tanda awal kanker. Demam berulang dapat dijumpai pada hampir semua jenis kanker.

3. Anak dapat tampak pucat akibat proses keganasan darah yang menekan produksi sel darah merah. Pucat juga dapat ditemui pada keganasan padat lain akibat pecahnya pembuluh darah pada organ yang mengalami keganasan tersebut. Berkurangnya sel darah merah akan menyebabkan kelelahan pada anak. Anak akan terlihat lesu dan tidak bersemangat dalam beraktivitas sehari-hari.


4. Memar-memar pada kulit, disertai perdarahan gusi, perdarahan hidung, atau bintik-bintik kemerahan pada kulit merupakan tanda perdarahan yang paling sering dijumpai pada keganasan darah. Tanda-tanda tersebut muncul tanpa didahului oleh riwayat jatuh benturan yang keras, atau saat aktivitas sehari-hari seperti menyikat gigi. Hal ini diakibatkan penurunan jumlah dan fungsi trombosit (sel darah yang berfungsi dalam pembekuan darah).


5. Nyeri pada tulang dan sendi yang dapat berpindah-pindah dari satu sendi ke sendi lainnya dapat dicurigai sebagai tanda awal keganasan darah. Hal ini dikarenakan sel-sel kanker yang menyusup ke tulang dan menimbulkan nyeri. Nyeri sendi dapat menetap disertai pembengkakan apabila kanker berasal dari sel-sel penyusun tulang.


6. Anak dapat mengeluhkan benjolan yang ukurannya membesar dengan cepat. Benjolan pada stadium awal umumnya tidak nyeri, berbeda dengan benjolan akibat infeksi. Benjolan dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, terutama di perut dan leher bergantung pada sumber keganasannya.


7. Apabila anak mengalami nyeri kepala hebat terutama pada pagi hari, disertai muntah tanpa disertai mual dan pandangan kabur atau berbayang, dapat dicurigai adanya kanker pada otak.

8. Berat badan yang sulit naik atau malah menurun dengan cepat meskipun anak makan seperti biasanya dapat dicurigai sebagai tanda awal kanker. Hal ini dikarenakan nutrisi yang diterima anak digunakan untuk pertumbuhan sel kanker dan bukan untuk pertumbuhan anak itu sendiri.

Apabila dijumpai tanda dan gejala seperti di atas pada anak, sebaiknya segera melakukan konsultasi dengan dokter, dokter anak, atau dokter anak yang ahli di bidang kanker. Meskipun tanda dan gejala tersebut belum pasti disebabkan oleh kanker, kewaspadaan yang lebih dini akan lebih menguntungkan. Adanya faktor risiko yang meningkatkan kejadian kanker seperti paparan bahan kimia (insektisida, pestisida, pupuk) dan kelainan bawaan sejak lahir (down syndrome, bibir sumbing, dan kelainan tulang belakang seperti spina bifida) pada anak semakin meningkatkan kecurigaan timbulnya kanker pada anak. Semakin cepat terdiagnosis, penyakit kanker pada anak akan semakin cepat ditangani dan semakin baik hasil pengobatan yang akan diperoleh.
 
 
Referensi:
Asselin BL. Cancer and Benign Tumors. In: Kliegman RM, Stanton BF, St Geme III JW, Schor NF, Behrman RE, editors. Nelson Textbook of Pediatric 20th Edition. Philadelphia: Elsevier, 2016. p.2416-89
Carroll WT, Bhatla T. Acute Lymphoblastic Leukemia. In: Lanzkowsky P, Lipton JM, Fish JD, editors. Lanzkowsky’s Manual of Pediatric Hematology and Oncology 6th Edition. 2016. London: Elsevier. p.367-89
Johnson KJ, Lee JM, Ahsan K, Padda H, Feng Q, Partap S, et al. Pediatric Cancer Risk in Association with Birth Defects: A Systematic Review. PLoS ONE. 2017; 12:e0181246
Steliarova-Foucher E, Colombet M, Ries LAG, Moreno F, Dolya A, Bray F, et al. International Incidence of Childhood Cancer, 2001-10: A Population-Based Registry Study. Lancet Oncol. 2017; 18:719-31.
Retinoblastoma. In: Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED, et al, editors. Pedoman Pelayanan Medis IDAI Edisi II. 2011.Jakarta: Badan Penerbit IDAI. p.270-2
 
Sumber:
dr. Beby Syofiani Hasibuan, M.Ked(Ped), Sp.A
Rumah Sakit Columbia Asia Medan

Jadwal Praktek:

Senin – Jumat : 15.00 – 19.00 WIB
Sabtu               : 10.00 – 13.00 WIB