Nyeri Pinggang Akibat Salah Posisi Beraktivitas

July 27, 2017


Encok atau nyeri pinggang, mungkin hal tersebut pernah dirasakan oleh semua orang di Indonesia atau bahkan di dunia. Nyeri pinggang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting pada semua negara. Di negara industri, prevelensi nyeri pinggang termasuk yang tertinggi dan membebani masyarakat. Di Eropa dan Amerika diperkirakan 80 persen dari semua orang mempunyai pengalaman nyeri pinggang dalam hidupnya.

Dokter spesialis saraf RS Columbia Asia Semarang DR. Dr. Dwi Pudjonarko Sp.S(K) mengatakan, nyeri pinggang merupakan nyeri lokal, radikuler atau keduanya. Nyeri yang berasal dari daerah pinggang dapat terujuk ke daerah lain, atau nyeri yang berasal dari daerah lain dapat dirasakan di daerah pinggang. Nyeri pinggang bukan diagnosa tetapi merupakan gejala dari penyebab yang sangat beragam. “Pada usia kurang dari 45 tahun nyeri pinggang menjadi penyebab kemangkiran paling sering, penyebab kedua kunjungan kedua ke dokter, masuk 3 besar tindakan pembedahan, dan juga penyebab disabilitas paling tinggi pada usia produktif,”katanya.

Penyebab terjadinya nyeri pinggang yaitu 97 persen berasal dari mekanikal, yaitu sprain/strain, proses di diskus dan faset, herniasi, stenosis, kompresi osteoporotik, spondilolistesis. 1 persen berasal non mekanikal yaitu neoplasma, infeksi, artritis inflamatori. Dan yang 2 persen berasal dari penyakit organ viseral, yaitu prostat, ginjal dan pancreas.

Nyeri pinggang dibedakan menjadi beberapa klasifikasi, diantaranya nyeri pinggang sederhana, ciri-cirinya diderita pada mereka yang berusia 20-40 tahun yang dikeluhkan biasanya nyeri otot pinggang secara tiba-tiba, tajam dan menetap ditempat, dan sembuh dalam kurun waktu 2-3 minggu. Faktor yang menyebabkannya diantaranya, kegemukan, pengguna alkohol, perokok, pendapatan rendah, pendidikan rendah, pekerja fisik berat, mengangkat beban berulang-ulang, membungkuk, duduk lama, “yang meningkatkan risiko sampai usia 50 tahun adalah postur tubuh yang statis, pergerakan berlebihan, memutar, menggunakan alat dengan getaran serta faktor psikologis” katanya.

Selanjutnya nyeri pinggang yang melibatkan saraf, nyeri pinggang ini termasuk nyeri pinggang mekanikal dengan atau tanpa sciatica. Nyeri pinggang ini dibedakan menjadi beberapa klasifikasi, yang pertama HNP (Hernia Nucleus Pulposus), dengan ciri-ciri biasanya penderita berusia 30-50 tahun, lokasi pinggang sampai tungkai bawah, nyeri terbakar, kesemutan di kaki, sakit akan terasa berat bila sedang membungkuk dan duduk, namun akan ringan jika digunakan berdiri.  Yang kedua stenosis spinal yaitu penderita biasanya berusia lebih dari 50 tahun, lokasinya berada di tungkai bawah dan seringkali bilateral, nyeri menusuk, akan lebih terasa berat jika dibuat jalan, dan berkurang saat duduk, penurunan ekstensi tulang belakang. Biasanya dilakukan pembedahan, namun meskipun pembedahan sukses, rekurensi masih sering terjadi. Dalam kurun waktu 4 tahun 30 persen mengalami nyeri berat dan 10 persen nya melakukan operasi kembali.

Yang ketiga spondilolistesis, terjadi pada usia 20-30 tahun, onset perlahan, akan terasa berat jika melakukan aktivitas dan ekstensi spinal, dan akan berkurang jika fleksi. Jika tidak progresif tak perlu terapi, karena bila pencetusnya dihilangkan maka nyerinya akan hilang pula. Masa pengobatan dilakukan selama 2-3 hari dibantu dengan terapi fisik dan obat-obatan. Dan yang keempat spondylosis.

Riwayat penyakit berkaitan dengan nyeri pinggang yang harus diwaspadai (Redflag) diantaranya adalah adanya trauma berat pada usia muda, dan trauma ringan pada usia tua, onset akut di daerah panggul atau testis, nyeri memberat pada malam hari, yang tidak mereda dengan istirahat terlentang, panas yang lebih dari 38 derajat celcius, riwayat kanker, penurunan berat badan yang tidak jelas, infeksi HIV, diabetes militus dan imunokompromise karena imunoterapi serta retensi urine.

Nyeri pinggang yang sudah berlangsung kronis lebih dari 3 bulan bisa menyebabkan perubahan psikososial diantaranya sikap dan kepercayaan mengenai nyeri pinggang, tingkah laku, masalah kompensasi, masalah diagnosis dan terapi, emosi, masalah keluarga dan masalah pekerjaan.

“Nyeri pinggang jarang karena penyakit yang serius, biasanya tidak membutuhkan foto sinar X, durasi waktunya tidak lama, meskipun sering kambuh, dapat hidup normal. Semakin lama orang tidak bekerja karena nyeri pinggang maka semakin lama pula untuk dapat kembali bekerja,” katanya.

“Posisi yang benar saat duduk, berdiri, tidur, mengemudi, mengangkat barang dan bekerja dapat mencegah nyeri pinggang. Dan olahraga yang baik bagi penderita nyeri pinggang yaitu olah raga yang low impact, seperti berenang, bersepeda, dan berjalan,” pungkasnya

Sumber :

DR. Dr. Dwi Pudjonarko Sp.S(K)
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang

Jl. Siliwangi No. 143, Semarang
Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com