Pengelolaan Stress Dapat Meredakan Sakit Kepala

June 21, 2017


RASA sakit di bagian kepala, bagi sebagian orang banyak yang menyepelekannya, akan tetapi hal tersebut hendaknya harus segera diatasi, karena hal tersebut bisa menyebabkan hal- hal lain yang memiliki resiko lebih parah. Penggunaan obat yang dijual bebas terkadang sudah bisa mengatasinnya, akan tetapi jika sakit tersebut masih belum teratasi oleh obat tersebut hendaknya dikonsultasikan kepada dokter.

Dokter spesialis saraf RS Columbia Asia Semarang dr. Maria Belladona, Sp.S, Msi.Med mengatakan, sakit kepala adalah rasa sakit yang muncul disekitar kepala. Sebagian besar sakit tersebut bisa diatasi dengan meminum obat pereda sakit, minum air yang cukup dan istirahat. Namun ada jenis sakit kepala yang memerlukan penanganan lebih, karena berkelanjutan dan membahayakan nyawa. Penyebab sakit kepala bisa diakibatkan oleh berbagai hal, namun secara umum sakit kepala bisa dikelompokkan berdasarkan penyebabnya, yaitu sakit kepala yang tidak terkait dengan penyakit lain atau biasa disebut dengan sakit kepala primer, atau sakit kepala yang diakibatkan oleh penyakit lain, atau biasa disebut sakit kepala sekunder. “Sakit kepala tipe primer diantaranya, sakit kepala tegang, migrain,sakit kepala cluster. Untuk yang sekunder diantaranya sinusitis, flu, infeksi telinga, pengaruh terlalu banyak mengonsumsi obat pereda sakit dan masalah gigi,” katanya. Penyumbatan pembuluh darah di otak, radang pada otak, gegar otak merupakan beberapa penyebab sakit kepala sekunder  yang jarang terjadi.

Sakit kepala primer merupakan sakit kepala yang disebabkan oleh gangguan pada struktur di kepala yang sensitif  terhadap rasa sakit dan bukan merupakan gejala penyakit lain. Pada sebagian orang, sakit kepala primer merupakan kondisi turunan dari keluarga.

Ada juga beberapa tipe sakit kepala yang spesifik, diantaranya sakit kepala rebound yang disebabkan oleh seringnya menggunakan obat pereda nyeri, sakit kepala thunderclap yang membuat penderitanya mengalami sakit kepala yang parah, terjadi secara tiba-tiba dan dengan penyebab dasar berpotensi fatal seperti pendarahan di otak, dan sakit kepala spinal yang disebabkan oleh kurangnya cairan serebrospinal setelah anestesi atau trauma.

Pengobatan sakit kepala yang harus dilakukan harus dilihat dari gejala yang dialami dan berdasarkan penyebabnya, karena tidak semua jenis sakit kepala bisa diatasi dengan meminum obat pereda sakit kepala saja. Apabila terjadi gejala-gejala sperti kesulitan berbicara, gangguan pada penglihatan, salah satu sisi tubuh lemah bahkan lumpuh, demam, sulit berjalan dan hilang kesadaran hendaknya sesegera mendapatkan penanganan yang intensif. “Untuk mencegah sakit kepala bisa dilakukan dengan istirahat yang cukup, mengelola stres dengan baik, dan rutin berolah raga. Selain itu juga dicari tahu pemicunya,”ungkapnya.

Untuk pengobatan sakit kepala migrain selain meminum obat pereda sakit, menenangkan diri di ruangan gelap dan tenang, mengompres leher atau kepala dengan air dingin atau hangat, minumsedikit kafein dan lakukan pemijatan. Pengobatan sakit kepala tegang bisa dilakukan dengan terapi prilaku kognitif, pemijatan, meditasi dan relaksasi. Pengobatan sakit kepala cluster bisa dilakukan oksigen 100 persen, serta obat-obatan seperti sumatriptan yang harus menggunakan resep dokter. “Terapi perilaku kognitif yaitu terapi dimana pasien diajari untuk mengelola stress yang bisa memicu ketegangan”.

Sumber :
dr. Maria Belladonna, Sp.S, Msi.Med
 
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Jl. Siliwangi No. 143, Semarang
Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com