Percaya Diri menjadi Ibu (Menghadapi Mom Shaming)

December 26, 2018


Sebagai ibu, tentunya kita sering mendapat komentar dari orang lain, entah itu nenek, tetangga, atau orang lain tak dikenal di tempat umum. Biasanya komentar ini terkait dengan perilaku anak. Komentar yang diucapkan ini tak jarang menyinggung perasaan ibu. Hal ini biasa dikenal dengan istilah Mom Shaming. Mom Shaming merupakan sebutan bagi upaya mengkritisi atau mengomentari seorang ibu, umumnya kepada wanita yang baru saja menjadi ibu terkait dengan pola asuh anaknya. Hal ini membuat ibu menjadi merasa bersalah serta ada beberapa diantaranya menjadi pencemas dan depresi.

Mom shaming bentuknya bermacam-macam. Mulai dari mengomentari cara seorang ibu menyuapi anaknya, cara ibu menyusui atau tidak, hingga yang sederhana sekalipun misalnya pilihan sepatu atau pakaian untuk anaknya.

Umumnya mereka yang menjadi korban utama mom shaming adalah kaum ibu yang terkenal. Mom shaming juga tidak hanya dilakukan oleh mereka yang mengenal sang ibu. Berkat media sosial dan unggahan kedekatan ibu dan anak di internet siapapun bisa melakukan mom shaming.

Pelaku mom shaming terbagi menjadi dua. Mereka yang dengan niat sengaja melakukan mom shaming dan satu lagi adalah mereka yang sebenarnya niatnya baik ingin memberi masukan, namun ternyata melukai perasaan ibu yang dikritik.

Dalam menghadapi perasaan tersinggung dan bersalah ini, pertama-tama kita perlu menyadari bagaimana diri kita mudah terluka dengan komentar dari orang lain ini. Ibu memang memiliki keterikatan istimewa dengan anak, sehingga sebuah komentar dengan sedikit nada negatif atau tatapan mata tertentu dari orang pun akan mudah menyinggung perasaan.

Selanjutnya, penyebab lain adalah karena kita sendiri kurang mempunyai perasaan kompeten sebagai orangtua. Saat menghadapi anak, kita sering bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah kita sudah mengasuhnya dengan baik, apakah kita mempunyai parenting skill yang mumpuni. Hal inilah yang perlu kita ubah. Kita harus memupuk rasa mampu dan rasa percaya diri sebagai orangtua.

Sesungguhnya, mengasuh anak memang bukan perkara menerapkan sebuah teori parenting untuk setiap perilaku anak. Tiap anak mempunyai karakter dan juga fungsi fisik-mental yang unik. Jadi, sebenarnya, tidak ada satu rumus untuk semua anak. Hal paling penting untuk dimiliki ibu sebagai pengasuh adalah pemahaman akan anaknya yang unik, dan satu-satunya jalan agar ibu mendapatkan pemahaman ini adalah dengan meluangkan waktu dan berinteraksi sebanyak-banyaknya dengan anak.

Hanya dengan terus bersama anak, maka ibu pun secara natural akan mempunyai insight bagus tentang anaknya, dan dengan demikian mampu mengasuh anaknya dengan baik, bahkan tanpa mempelajari ilmu parenting sekalipun.

Jika dibandingkan dengan nenek, tetangga, apalagi orang lain, jelas ibu lah yang lebih sering bersama anak, jadi, otomatis ibu juga paling mengenal anak. Karena ibu sudah memahami anaknya, saat anak berperilaku tertentu, ibu lah yang bisa menentukan sikap yang lebih tepat. Jadi, jika orang lain yang hanya melihat seketika itu melontarkan komentar dan memberikan penilaian cepat, biasanya itu kurang tepat.

Orang lain hanya melihat satu situasi, sementara ibu sudah mengetahui pola perilaku anaknya. Jadi, saat orang lain berkomentar, tidak perlu tersinggung, dengarkan saja, dan maklumi karena mereka hanya melihat satu momen itu saja.

Sebagai ibu, percayalah, diri Anda cukup bagi anak. Anak Anda mencintai ibunya apa adanya. Yang pasti, budaya mom shaming perlu dihentikan. Mari beranggapan positif kalau semua ibu tahu apa yang paling baik buat anaknya dan dirinya.
 
Sumber:
Henny Setiawati, M.Psi
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang

Jl. Siliwangi No.143
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com