Tinnitus, Penyakit Telinga Berdenging

July 06, 2018


Tinnitus adalah bunyi berdenging pada telinga yang merupakan tanda atau gejala dari kondisi kesehatan tertentu, seperti cedera telinga, gangguan pada sistem sirkulasi tubuh, atau menurunnya fungsi pendengaran yang muncul seiring bertambahnya usia. Tinnitus merupakan kondisi yang bisa dialami semua orang dari segala usia. Meskipun begitu, gejala ini umumnya dialami oleh lansia yang berusia di atas 60 tahun.
 
Menurut dokter spesialis THT RS Columbia Asia Semarang, dr. Riece Hariyati, Sp. THT-KL(K), Msi. Med, tinnitus umumnya ditandai dengan munculnya bunyi berdenging pada telinga, tetapi bisa juga berupa bunyi berdesis, atau bahkan siulan. Bunyi ini bisa terdengar pada salah satu atau kedua telinga. Sebagian besar bunyi tinnitus hanya bisa didengar oleh penderitanya. Meski demikian, terkadang ada juga yang bisa terdengar oleh dokter yang memeriksa kondisi telinga pasien. Tinnitus umumnya bukan kondisi yang serius dan bisa membaik dengan sendirinya. Tetapi tidak ada salahnya kita tetap waspada dan memeriksakan kondisi telinga ke dokter, terutama jika bunyi tersebut mengganggu ketenangan atau aktivitas sehari-hari, misalnya menjadi sulit tidur sehingga mengalami depresi, tinnitus setelah mengalami infeksi pada saluran pernapasan atas (misalnya flu), dan tidak membaik dalam kurun waktu 7 hari, serta tinnitus disertai dengan pusing/ vertigo atau kehilangan pendengaran.
 
Tinnitus dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebabnya juga terkadang sulit diketahui dengan pasti. Beberapa faktor penyebab yang melatarbelakangi tinnitus:
  • Kerusakan pada telinga bagian dalam. Ini merupakan penyebab dari sebagian besar tinnitus. Pada kondisi normal, suara yang masuk ke telinga akan dikirim ke otak oleh saraf-saraf pendengaran setelah sebelumnya melalui suatu rongga berbentuk spiral yang disebut koklea. Jika terjadi kerusakan pada koklea, proses penghantaran gelombang suara akan terputus dan otak akan terus mencari sinyal dari koklea yang tersisa sehingga menyebabkan bunyi tinnitus.
  • Kehilangan pendengaran karena lanjut usia. Kepekaan saraf pendengaran akan berkurang seiring bertambahnya usia sehingga kualitas pendengaran kita akan menurun.
  • Pajanan suara atau bunyi yang nyaring, contohnya mendengar musik yang terlalu nyaring melalui earphone, pekerja pabrik yang menangani mesin-mesin berat, atau mendengar bunyi ledakan. (Pajanan jangka pendek biasanya akan menyebabkan tinnitus yang bisa hilang sendiri, sementara pajanan jangka panjang berpotensi menimbulkan kerusakan permanen).
  • Penumpukan kotoran dalam telinga. Ini akan menghalangi pendengaran dan bisa memicu iritasi pada gendang telinga.
  • Infeksi pada telinga bagian tengah.
  • Penumpukan cairan dalam telinga bagian tengah.

Diagnosis Tinnitus

Pemeriksaan dan diagnosis tinnitus umumnya dilakukan oleh dokter THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan). Dokter akan meminta pasien untuk mendeskripsikan jenis bunyi yang didengar, menanyakan riwayat kesehatan, mengukur tingkat keparahan tinnitus, serta memeriksa kondisi telinga pasien.
Pemeriksaan lebih lanjut yang biasanya dilakukan meliputi evaluasi pendengaran, pemeriksaan darah, CT scan, dan MRI. Rangkaian pemeriksaan tersebut adalah untuk menegakkan diagnosis sekaligus untuk mencari penyebab tinnitus.

Pengobatan Tinnitus

Tiap penderita tinnitus membutuhkan cara penanganan yang berbeda, tergantung pada faktor penyebab tinnitus. Contohnya:
  • Dokter akan mengganti obat yang digunakan jika tinnitus yang muncul merupakan efek samping dari obat-obatan.
  • Apabila penumpukan kotoran telinga terbukti menjadi pemicu tinnitus, dokter akan menganjurkan metode pembersihan telinga atau memberikan obat tetes telinga untuk mengatasinya.
Namun jika penyebab tinnitus tidak diketahui, penanganan yang diberikan bertujuan untuk menekan bunyi tinnitus semaksimal mungkin sehingga tidak mengganggu aktivitas penderita. Langkah-langkah tersebut biasanya meliputi:
  • Penggunaan alat bantu dengar.
  • Pemberian obat-obatan.
  • Prosedur operasi.
  • Terapi suara, misalnya menggunakan bunyi-bunyi lain (seperti suara radio atau rekaman bunyi hujan) untuk menutupi bunyi tinnitus yang dialami.
  • Tinnitus retraining therapy (TRT). Dalam terapi ini, pasien akan dilatih untuk membiasakan diri dengan bunyi tinnitus yang dialami.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT) agar pola pikir penderita terhadap tinnitus bisa diubah sehingga terhindar dari stres dan depresi.
Di samping melalui terapi medis, ada juga sejumlah cara yang bisa diterapkan di rumah untuk membantu mengendalikan tinnitus. Beberapa di antaranya adalah dengan sebisa mungkin menghindari pemicu tinnitus jika penyebabnya diketahui, mendengarkan musik yang menenangkan, mencari hobi yang bisa mengalihkan perhatian, mengurangi konsumsi minuman keras, atau melakukan relaksasi (seperti meditasi dan yoga).


Sumber:
dr. Riece Hariyati, Sp. THT-KL(K), Msi. Med
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Jl. Siliwangi No.143
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com