Vaksinasi Meningitis untuk Anak, Perlukah?

July 19, 2018


Meningitis adalah peradangan pada selaput pembungkus otak dan sumsum tulang belakang. Peradangan dapat terjadi akibat infeksi bakteri, virus, jamur, dan parasit. Di negara berkembang, bakteri merupakan penyebab tersering dari meningitis. Bakteri yang sering menyebabkan meningitis adalah Haemophilus influenza tipe B, Streptococcus pneumoniae, dan Neisseria meningitidis. Kelompok yang paling rentan untuk menderita meningitis adalah balita dan dewasa muda (usia 15-19 tahun). 

Kejadian meningitis akibat infeksi Streptococcus pneumoniae di seluruh dunia adalah sebesar sebesar 17 kasus per 100.000 anak dan 59% diantaranya meninggal dunia. Wilayah Asia Tenggara memiliki angka kejadian tertinggi di dunia, yaitu sekitar 26% dari total kasus di dunia. Di Inggris, angka kejadian meningitis akibat infeksi Streptococcus pneumoniae sangat rendah (2,03 kasus per 100.000 anak) dikarenakan cakupan imunisasi yang optimal. Laporan dari Turki menyebutkan bahwa Streptococcus pneumoniae menyebabkan 30,2% kasus meningitis dengan 14,3% diantaranya meninggal dunia. Meningitis akibat infeksi Haemophilus influenza terjadi pada 1,3-11 per 100.000 balita dengan angka kematian sebesar 10% di Bulgaria. Angka yang lebih rendah juga dilaporkan di Inggris, yaitu sebesar 0,28 per 100.000 anak. Di Afrika Barat, angka kejadiannya mencapai 60 kasus per 100.000 balita dengan 45% diantaranya mengalami gejala sisa. Penelitian di Turki melaporkan persentase meningitis akibat Haemophilus influenza sebesar 18,1% dimana kematian terjadi pada 14,3% kasus.

Di Indonesia, meningitis akibat Haemophilus influenza dilaporkan sebesar 16 per 100.000 anak (sekitar 33%-38%), sedangkan meningitis akibat bakteri lain sebesar 67 per 100.000 anak. Sekitar 18-40% anak yang menderita meningitis bakterialis di Indonesia meninggal dunia dan 30-50% diantaranya mengalami gangguan neurologis seperti masalah pendengaran, kejang, dan retardasi mental. Meningitis menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian pada anak usia 1-11 bulan dan di urutan keempat pada anak usia 1-4 tahun. Di Medan, dilaporkan 102 kasus meningitis bakterialis pada anak dalam periode 2006-2011 dimana 43 diantaranya meninggal dunia.

Bakteri penyebab meningitis ditularkan melalui saluran nafas. Anak dengan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi. Gejala klinis meningitis pada anak dapat didahului demam, batuk, pilek, diare, atau muntah. Selanjutnya muncul nyeri kepala, kekakuan pada leher, kejang, dan anak menjadi tidak sadar. Pada bayi, gejalanya dapat berupa demam, rewel, malas minum, menangis melengking, terlihat mengantuk terus, dan ubun-ubun menonjol. Penderita meningitis sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan serta mendapat pengobatan dan pemantauan tenaga medis. Perawatan penderita meningitis umumnya panjang dan memerlukan biaya yang cukup besar.

Upaya pencegahan merupakan cara yang efektif untuk menghindari dampak buruk dari meningitis. Menghindari kontak dengan penderita infeksi saluran nafas atau menggunakan alat pelindung diri dapat mencegah infeksi bakteri penyebab meningitis. Pemberian dukungan nutrisi untuk menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh tetap optimal akan membantu mencegah terjadinya penyakit tersebut. Vaksinasi adalah salah satu upaya pencegahan meningitis dengan daya perlindungan yang baik.

Vaksinasi meningitis telah dibuat dan tersedia di Indonesia. Vaksinasi tersebut dapat melindungi dari infeksi Haemophilus influenza dan Streptococcus pneumoniae penyebab meningitis. Vaksinasi berisi komponen bakteri yang dapat menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi bakteri. Pemberian vaksinasi dengan dosis yang dianjurkan terbukti dapat menurunkan angka kecacatan dan kematian pada penderita meningitis akibat infeksi Haemophilus influenza dan Streptococcus pneumoniae. Vaksinasi terhadap Haemophilus influenza diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan serta booster pada usia antara 15-18 bulan. Vaksinasi terhadap Streptococcus pneumoniae diberikan sebanyak 3 kali pada usia 2, 4, dan 6 bulan serta booster pada usia antara 12-15 bulan. Jika dimulai pada usia 7-12 bulan, vaksinasi diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 2 bulan dan booster pada usia 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Apabila dimulai setelah usia 1 tahun, vaksinasi diberikan 1 kali dan booster minimal 2 bulan kemudian. Pada anak yang berusia di atas 2 tahun, vaksinasi cukup diberikan 1 kali.

Vaksinasi terhadap Neisseria meningitidis belum rutin diberikan pada anak karena secara epidemiologis, bakteri tersebut jarang dijumpai di Indonesia. Vaksinasi ini diberikan kepada orang yang melakukan perjalanan rohani ke wilayah Timur Tengah atau orang yang melakukan perjalanan ke negara-negara endemis Neisseria meningitidis.
 
Sumber:
dr. Beby Syofiani Hasibuan, M.Ked(Ped), Sp.A(K)
Rumah Sakit Columbia Asia Medan
Jl. Listrik No. 2A
Medan, Sumatera Utara, Indonesia
Kode Pos 20112
Tel. +6261 4566 368
E: customercare.medan@columbiaasia.com