Waspadai Alergi Susu Sapi Pada Bayi

July 10, 2017



SUSU sapi dianggap sebagai penyebab alergi makanan pada anak yang paling sering dan paling awal dijumpai dalam kehidupannya. Alergi susu sapi adalah suatu penyakit yang berdasarkan reaksi imunologis yang timbul sebagai akibat pemberian susu sapi atau makanan yang mengandung susu sapi.
 
Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Penelitian terakhir juga mengungkapkan bahwa alergi makanan dapat mengganggu perilaku anak seperti gangguan hiperkinetik, gangguan konsentrasi, gangguan tidur atau memperberat Autis.
 
Dokter spesialis anak RS Columbia Asia, Prof. Dr. dr. Harsoyo N. DTM&H SpA(K) mengatakan, secara umum, alergi lebih disebabkan karena makanan dan minuman. Untuk bayi, makanan atau minuman yang dikenalkan pertama kali adalah susu. Air Susu Ibu (ASI) dianjurkan secara eksklusif diberikan kepada bayi selama 6 bulan penuh.
 
''Jika harus menggunakan susu sapi, tentunya karena beberapa faktor. Bayi dengan risiko tinggi alergi adalah bayi dengan riwayat alergi yang kuat dalam keluarga, yaitu alergi pada kedua orangtua atau alergi pada salah satu orangtua. Bayi yang memenuhi kriteria tersebut memiliki risiko 60-40 persen untuk mengalami alergi di kemudian hari,'' tuturnya.
 
Alergi susu sapi dapat timbul sejak beberapa menit sampai beberapa jam setelah mengkonsumsi susu sapi. Tanda dan gejalanya pun bervariasi dari yang ringan sampai yang parah termasuk sesak nafas, muntah, kulit kemerahan dan masalah pencernaan. Walaupun jarang terjadi, alergi susu sapi juga dapat menyebabkan reaksi anafilaksis– reaksi yang berat dan mengancam jiwa. Eliminasi susu sapi adalah pengobatan utama pada alergi susu sapi. Dan pada sebagian anak alergi susu sapi akan hilang sampai usia 3 tahun.
 
Penyebab alergi susu sapi, kata dia, lebih disebabkan adanya sistem imun yang kurang berfungsi. Sistem imun mengidentifikasi protein susu sebagai hal yang membahayakan sehingga memicu tubuh menghasilkan antibodi imunoglobulen E (IgE) untuk menetralisis protein (allergen).
 
Suatu saat bila terjadi kontak lagi dengan protein yang sama, antibodi IgE mengenali allergen tersebut dan memberikan sinyal ke sistem imun untuk mengeluarkan histamine, dan histamine inilah yang bertanggungjawab terbentuknya reaksi alergi termasuk pilek, mata gatal, tenggorokan gatal, bengkak, muntah bahkan reaksi anafilaksis.
 
Reaksi alergi terhadap susu sapi dapat terjadi secara langsung (immediate) dalam hitungan menit hingga 1 jam setelah susu sapi diminum. Termasuk gejala gatal-gatal, eksim, wajah bengkak, bersin, muntah, diare dan yang terparah adalah reaksi anafilaksis.
 
Reaksi ini adalah reaksi yang diperantarai IgE (Imunoglobulin E). Reaksi anafilaksis adalah keadaan emergensi yang memerlukan terapi dengan suntikan epinefrin (adrenalin) yang dilakukan di instalasi gawat darurat. Gejalanya dapat berupa penyempitan saluran nafas termasuk pembengkakan di tenggorokan sehingga mengalami kesulitan bernafas, wajah merah, gatal-gatal, sampai syok dengan penurunan tekanan darah.
 
Sementara itu, reaksi yang tertunda (delayed), dapat terjadi beberapa jam atau bahkan berhari-hari setelah susu diminum. Gejala termasuk eksim, muntah, diare atau bahkan mungkin asthma. Bayi pun dapat mengalami gagal tumbuh. Reaksi ini adalah reaksi yang tidak diperantarai IgE. Intoleransi protein susu sapi adalah sebuah contoh dari reaksi ini, kadang-kadang akan terlihat darah pada tinja.
 
''Untuk diagnosa alergi susu sapi, si bayi diperiksa darah dan kulitnya. Apakah alergi yang muncul disebabkan faktor diperantarai IgE atau tidak. Tes alergi melalui RAST dan IgE dapat dilakukan secara rutin,'' katanya.
 
Untuk pengobatan pertama, si ibu harus menghentikan konsumsi susu sapi atau mengganti susu lain yang low alergy. Misalnya susu kedelai. Apalagi, produsen susu saat ini dalam proses pembuatannya sudah bagus. Memiliki kandungan ALA, DHA, AHA dan lain sebagainya.
 
Efek alergi susu sapi yang dapat diketahui pertama kali menurut Harsoyo yang khas si bayi akan mengalami diare karena metabolisme pencernaannya terganggu. Diikuti dengan gatal, pilek, batuk karena komplikasi dahak yang tidak keluar.

Sumber :

Prof. Dr. dr. Harsoyo N. DTM&H SpA(K)
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Jl. Siliwangi No. 143, Semarang
Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com