Waspadai Cacar Monyet dan Ketahui Cara Pencegahannya

May 16, 2019


Di Singapura sedang ramai dibicarakan infeksi monkeypox atau cacar monyet/monkeypoxvirus (MPXV) setelah otoritas Singapura mengumumkan seorang warga Nigeria terbukti terjangkit dan membawa virus cacar monyet dari negaranya. Penyakit ini tentu menimbulkan reaksi bagi warga Indonesia, bahkan Kemenkes sudah mulai mewaspadai penyakit ini. Mari kenali lebih jauh soal penyakit cacar monyet ini.

Cacar monyet mirip sekali dengan penyakit ruam, seperti cacar air, cacar, campak, infeksi kulit akibat bakteri, kudis, sifilis dan alergi terkait obat. Cacar monyet hanya dapat didiagnosis secara pasti di laboratorium khusus dengan sejumlah tes yang berbeda.

Virus cacar monyet ini pertama kali muncul di Amerika tahun 1958. Ini termasuk penyakit langka, dan biasanya ditularkan oleh binatang liar seperti hewan pengerat (tikus, tupai) dan primate (kera) ke manusia. Virus cacar monyet menginfeksi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa hewan yang terinfeksi. Selain itu, penularan dari manusia ke manusia juga mungkin terjadi meski tidak mudah. Salah satu cara penularan yang lain, yaitu memakan daging hewan yang tidak dimasak.

                                                     

Cacar monyet disebabkan oleh sejenis virus yang termasuk kelompok Orthopoxvirus, pada umumnya ditularkan dari hewan kepada manusia.

Menurut World Health Organization (WHO), Cacar monyet biasanya diawali dengan periode inkubasi selama enam sampai 16 hari. Pada tahap pertama 0-5 hari, penderita akan mengalami demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit punggung, nyeri otot, dan kekurangan energi. Ruam mulai muncul dari wajah hingga menyebar ke seluruh tubuh penderita setelah terjadi demam selama satu hingga tiga hari. Periode tersebut dinamakan periode erupsi kulit. Dalam kurun waktu 10 hari, luka berevolsi menjadi lepuhan berisi cairan, bintil, dan akhirnya kerak. Dan kerak akan menghilang sekitar tiga minggu kemudian. Cacar Monyet biasanya adalah suatu penyakit yang bisa pulih setelah gejalanya berakhir dari 14-21 hari. Tetapi bisa berakibat fatal pada kelompok anak-anak.

                                                          

Pencegahan dapat dilakukan dengan:
  1. Mengurangi resiko penyebaran dari hewan ke manusia. Usaha untuk mencegah penularan di daerah endemik: pertama harus fokus pada menghindari kontak dengan tikus dan primata (kera), kedua membatasi paparan langsung terhadap darah dan daging yang telah terinfeksi, serta memasaknya secara menyeluruh sebelum dikonsumsi. Harus memakai sarung tangan dan pakaian pelindung lainnya yang sesuai saat menangani hewan yang sakit atau jaringannya yang terinfeksi, dan selama prosedur pemotongan.
  2. Mengurangi resiko penyebaran dari manusia ke manusia. Kontak fisik yang dekat dengan orang yang terinfeksi cacar monyet atau bahan yang terkontaminasi harus dihindari. Sarung tangan dan peralatan pelindung harus dipakai saat merawat orang sakit. Mencuci tangan secara teratur harus dilakukan setelah merawat atau mengunjungi orang sakit. Dianjurkan isolasi pasien baik di rumah atau di fasilitas kesehatan.
Jika Anda atau anak Anda memiliki gejala seperti di atas terlebih sehabis bepergian dari daerah Afrika atau Singapura Anda dapat segera berkonsultasi dengan dokter kami. Salam Sehat Sahabat #RSColumbiaAsia


Sumber:

Tim Layanan Medis
RS Columbia Asia Indonesia

 


Referensi:
  1. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/monkeypox
  2. http://www.depkes.go.id/article/view/19051500001/ini-tentang-monkeypox-mpx-.html