Gamophobia


Pernikahan merupakan wujud dan bukti dari kasih sayang serta saling mengasihi satu dengan yang lain. Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan. Oleh sebab itu, tidak heran orangtua akan selalu berusaha mendesak anaknya untuk segera menikah jika anak sudah memiliki calon pasangannya. Apalagi jika anak sudah bekerja. Namun kenyataannya tidak semua anak siap untuk menikah, padahal usianya sudah seharusnya memasuki mahligai Rumah-tangga,  bahkan ada yang takut untuk menikah dengan alasan faktor ekonomi yang pas-pasan, trauma dengan kondisi keluarga yang orangtuanya sering bertengkar dan bahkan ada orangtua yang bercerai, trauma dengan pengalamannya sendiri yang ditinggal pacar, trauma dengan kekerasan yang dialami selama masa pacaran, dan lain sebagainya.
Dalam dunia psikologi, dikenal dengan istilah Gamophobia, yang diartikan sebagai suatu kondisi mental yang membuat seseorang takut untuk berkomitmen dalam ikatan pernikahan. Istilah tersebut berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yakni Gamos yang berarti perkawinan dan phobos yang berarti ketakutan.
Gamophobia merupakan suatu kondisi rasa takut untuk menikah, berada dalam suatu hubungan asmara, atau komitmen. Lawan dari “gamophobia” yakni ‘anuptophobia’ yang diartikan sebagai suatu ketakutan untuk menjadi jomblo atau hidup menjomblo. .Seseorang yang memiliki gamophobia tetap bisa menyukai atau mencintai seseorang, namun ketika mereka mengetahui bahwa orang yang mereka sukai juga menyukainya dan mencoba menjalin hubungan dengan mereka, justru disini muncul ketakutan pada diri mereka dan ada kemungkinan rasa suka yang dimiliki berubah menjadi rasa benci. Penderita gamophobia sebenarnya ingin menikah, namun perasaan tersebut tertutup oleh rasa takut yang mencegah keinginan untuk menikah.
 
 
 
 
Penyebab gamophobia
Beberapa penyebab gamophobia diantaranya adalah:
  • Hubungan keluarga yang rumit
  • Takut tidak berada dalam hubungan yang tepat
  • Trauma atau pernah dilecehkan saat masa kecil
  • Takut tidak berada di kondisi saat hubungan berakhir tanpa tanda atau peringatan
  • Memiliki masalah dalam kepercayaan karena pernah disakiti oleh orang terdekat
  • Takut atau pernah berada di hubungan yang tidak sehat
  • Kebutuhan yang tidak didapatkan saat masih kecil
  • Masalah dalam hubungan dengan orangtua

Rasa takut akan muncul dan menjadi suatu obsesi. Pemikiran negatif mengenai buruknya pernikahan disertai rasa takut yang berlebihan menjadi pemicu penderita hingga menjadi phobia. Pemicu dari rasa takut akan pernikahan juga bisa terjadi karena ketakutan akan lawan jenis, bentuk tubuh yang tidak bagus, ketakutan akan telanjang, ketakutan berhubungan badan atau ketidakmampuan dalam menyalurkan perasaan. Meskipun perasaan penderita gamophobia mengatakan ingin dicintai dan menikah, namun rasa takut menguasai pikiran mereka hingga membuat mereka berfikir bahwa hubungan yang melibatkan perasaan cinta dan pernikahan adalah sesuatu yang harus dihindari bagaimanapun caranya.
Gamophobia bisa dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Biasanya tidak dirasakan secara tiba-tiba, melainkan ada penyebabnya. Faktor pertama yang bisa menjadi penyebab seseorang mengalami ketakutan untuk berkomitmen adalah ketidakpercayaan diri yang berlebihan. Kehidupan rumah tangga setelah menikah akan mengubah kehidupannya dibandingkan dengan sebelum menikah. Sebagai suami atau istri, seseorang akan memiliki tanggung jawab masing-masing yang memang tidak mudah dan pasti akan mengalami banyak masalah serta tantangan ketika sudah menikah. Hal tersebut seringkali menjadi alasan seseorang merasa takut menjalani kehidupan pernikahan.
 
Tanda-Tanda Gamophobia
Beberapa tanda orang yang mengalami gamophobia:
  • Merasa takut secara berlebihan dengan pernikahan. Bahkan ketika melihat teman atau kerabat dekat yang menikah juga memicu ketakutannya.
  • Penuh ketidak pastian ( misalnya sering menggunakan kata “mungkin”)
  • Menghindari pembicaraan tentang pernikahan
  • Sulit mengekspresikan diri
  • Panik dan agresif ketika menanggapi orang lain yang sedang mempersiapkan pernikahan
  • Status hubungan yang tidak jelas
  • Hubungan romantis masa lalu yang singkat
  • Kurang percaya diri
  • Sulit membuat janji untuk kencan atau diajak menghadiri pesta
  • Panik terhadap pernikahan diikuti dengan gejala fisik seperti gemetar, pusing, menangis, jantung berdetak kencang, sesak napas, hingga pingsan.
  • Tidak memiliki banyak teman.
 
Cara Mengatasi Gamophonia
Gamophobia adalah fobia umum yang bisa dialami oleh siapa saja, terutama pria. Pria cenderung takut menikah karena risiko pribadi, finansial, dan sosial yang menyertai pernikahan. Meskiun demikian, para wanita ada baiknya untuk mengetahui tentang phobia ini supaya mewaspadainya juga dan dapat mengantisipasi jika hal ini terjadi pada mereka.
Bila pernikahan menjadi tahap paling menakutkan dalam menjalin hubungan, tetapi Anda tetap memiliki keinginan untuk menikah, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yakni:
 
 
  1. Mengetahui alasan utama yang membuat Anda takut menikah, supaya Anda bisa mengambil  langkah selanjutnya untuk perlahan menyingkirkan ketakutan tersebut.
  2. Setelah menikah sebenarnya hidup Anda tidak berubah 180 derajat, Anda tetap bisa menjadi diri sendiri. Tidak semua hal menjadi buruk dan berat ketika sudah menikah.
  3. Leih banyak bergaul dengan orang-orang yang merasakan kebahagiaan setelah menikah. Hal tersebut bisa menjadi bentuk dukungan untuk menyingkirkan ketakutan yang Anda rasakan.
  4. Berkonsultasilah dengan psikolog atau terapis lainnya untuk mendapatkan pertolongan yang tepat.

Cara Mengatasi Gamophobia
Setelah membaca penyebab dan tanda-tanda seseorang mengalami penyakit gamophobia, berikut ini adalah cara -cara yang mudah diikuti untuk mengatasinya, antara lain:
1. Belajar Dari Masa Lalu
Belajarlah dari kegagalan masa lalu dalam hal percintaan. Ingat kembali apakah yang menyebabkan kegagalan tersebut dan jadikan sebagai modal untuk memperbaiki hubungan di masa yang akan datang. Perlu diingat bahwa kegagalan mungkin bisa terjadi kembali di masa yang akan datang.
2. Membuang Pikiran-Pikiran Negatif
Terkadang bisa juga muncul pikiran negatif seperti, menganggap pasangan baru anda tidak benar benar menyayangi anda, dan akan pergi meninggalkan anda ataupun bahkan akan mengkhianati anda. Untuk mengatasi hal tersebut, buanglah pikiran negatif jauh-jauh. Jangan menutup pikiran anda karena tidak semua kenyataan sesuai dengan pikiran anda.
3. Beranggapan Menikah Akan Membuat Bahagia
Jangan takut untuk menikah. Pada dasarnya, menikah akan membuat anda merasa bahagia. Mungkin ada kalanya dipertengahan jalan pernikahan membuat anda merasa sedih dan mengalami masalah, namun setiap masalah pasti ada solusinya. Yang terpenting adalah niat anda untuk bisa memeroleh kebahagiaan. Sehingga jangan ragu-ragu untuk menikah.
4. Berusaha Lebih Terbuka
Mencoba membuka diri serta beraktivitas dengan orang-orang disekitar akan lebih bermanfaat Hindari untuk menutup diri dan mengurung diri di kamar. Jika kemudian hari menemukan orang yang lebih menarik, jangan ragu-ragu untuk membuka diri.
5.Konsultasi ke Psikolog
Segera Konsultasi ke Psikolog agar dapat membantu dengan memberikan konseling yang tepat sehingga dapat meringankan penderita untuk mengerti kondisi yang di alami serta membantu penderita untuk dapat membangun hubungan komunikasi yang efektif dan terbuka dengan pasangannya.
 
Artikel ini telah di review oleh Oleh: Andy Chandra S.Psi., M.Psi., Psikolog dari RS. Columbia Asia Medan