Memakai Deodoran Dapat Menyebabkan Kanker? Mitos atau Fakta?

Sahabat #RSColumbiaAsia pernahkah Anda penasaran dan ingin tahu, terkait dengan penggunaan deodoran yang dapat menyebabkan kanker? Mitos atau Fakta, yaa?

Deodoran adalah zat yang dapat menghilangkan atau menutupi aroma tidak sedap pada ketiak, deodoran merupakan produk kosmetik yang memang dibuat khusus untuk membunuh bakteri penyebab bau badan. Nah, untuk tetap wangi dan terhindar dari bau ketiak, mungkin sebagian besar Sahabat #RSColumbiaAsia adalah sebagai pengguna deodoran. Deodoran memang mampu mengontrol keringat pada ketiak dan menjaganya tetap kering, sehingga Sahabat #RSColumbiaAsia bisa tetap beraktivitas dengan percaya diri. Tentunya, deodoran terdiri atas beberapa jenis seperti deodoran aerosol, deodoran roll on, deodoran invisible, deodoran solid, dan tisu basah deodoran

Meskipun deodoran merupakan produk kosmetik yang sudah sangat lumrah digunakan bagi kalangan masyarakat, faktanya deodoran memiliki dampak yang kurang baik terhadap kesehatan. Bahan-bahan yang terkandung dalam deodoran diantaranya alumunium klorida, paraben, propylene glycol, amine, triclosan dan talek. Beberapa diantara kandungan deodoran seperti alumunium dan paraben, seringkali disebut sebagai pemicu kanker, mitos atau fakta?

Penggunaan deodoran setiap hari dinilai dapat membuat kandungan alumunium dan paraben menyerap ke dalam kulit dan memicu kanker payudara. Alumunium merupakan komponen utama karena berfungsi untuk mencegah keringat keluar ke permukaan kulit. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa senyawa alumunium mudah diserap ke dalam kulit dan menyebabkan perubahan hormon estrogen, estrogen adalah salah satu hormon yang dapat memicu perkembangan kanker payudara. Terlebih, senyawa alumunium dapat bereaksi langsung dengan jaringan payudara dan menyebabkan perubahan pada reseptor estrogen dalam sel payudara.

The American Cancer Society melaporkan, tidak ada hubungan yang jelas antara alumunium dengan kanker payudara.

Food and Chemical Toxicology, menyatakan bahwa tingkat penyerapan alumunium chlorohydrate yang diterapkan pada ketiak dan diserap oleh kulit sebenarnya cukup kecil, hanya 0,012 persen.

Beberapa penelitian melaporkan adanya hubungan antara anti-perspirant dan kanker. Namun, penelitian lain menyangkal hal tersebut. Studi dalam Journal of National Cancer Institute pada tahun 2002 tidak menemukan peningkatan risiko kanker pada perempuan yang menggunakan anti-perspirant. Begitupun dengan penelitian yang diungkapkan dalam Eastern Mediterranean Health Journal ppada 2006, tidak ada hubungan antara penggunaan anti-perspirant dan kanker payudara.

Massick pada Live Science merujuk pada Critical Reviews in Toxicology pada 2014, memeriksa beberapa penelitian alumunium yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan tidak menemukan bukti bahwa antirespirant menimbulkan bahaya khusus bagi kesehatan, terutama ialah kanker payudara. Massick menjelaskan, alumunium sebagai formula dari deodoran agar menyumbat saluran keringat, tetapi tidak menyerap begitu besar ke dalam saluran kulit. Dengan kata lain, untuk bahan kimia yang menyebabkan kanker harus benar-benar menyerap ke dalam tubuh dalam dosis yang tinggi, sehingga setetes kecil alumunium setiap hari ke ketiak tidak cukup untuk menyebabkan kanker.

Stefano J. Mandriota dalam Ebiomedicine Journal of Elsevier pada 2017, menyebutkan bahwa hanya terdapat 27 subkelompok yang menunjukkan hubungan antara kandungan alumunium dalam deodoran dengan penyebab kanker. Namun, diperlukan adanya studi tambahan untuk mengkonfirmasi penggunaan deodoran dengan penyebab kanker.

Begitupun dengan beberapa penelitian yang berfokus pada kandungan paraben yang merupakan pengawet digunakan dalam beberapa produk deodoran, terbukti dapat meniru aktivitas estrogen dalam sel-sel tubuh. Telah dilaporkan bahwa paraben ditemukan pada tumor payudara, tetapi tidak ada bukti bahwa dapat menyebabkan kanker payudara.   
Berdasarkan beberapa fakta tersebut, hingga saat ini belum ada penelitian yang benar-benar dapat membuktikan adanya hubungan antara penggunaan deodoran dengan perkembangan kanker payudara.

Dengan demikian, menurut Grete Brauten-Smith seorang spesialis perawat klinis di Breast Cancer Care yang dikutip dalam The Guardian menyebutkan bahwa wanita dapat terus menggunakan produk tersebut tanpa khawatir. Karena tidak ada bukti konklusif yang mengatakan bahwa deodoran dapat menyebabkan kanker.

Nah, apabila Sahabat #RSColumbiaAsia tidak dapat menghilangkan kebiasaan penggunaan deodoran dan untuk tetap dapat menggunakan deodoran serta tetap menjaga kesehatan maka ada beberapa hal yang bisa Sahabat #RSColumbiaAsia perhatikan, diantaranya:

  1. Pilihlah deodoran dengan anti-perspirant

Sahabat #RSColumbiaAsia perlu memperhatikan kandungan anti-perspirant pada deodoran yang akan dipilih. Karena deodoran dengan anti-perspirant dapat cocok bagi Anda yang memproduksi keringat berlebih dengan aroma yang kurang sedap.

  1. Pilihlah deodoran non alcohol

Bagi Sahabat #RSColumbiaAsia yang memiliki kulit sensitive, sebaiknya gunakan deodoran non alcohol agar tetap menjaga kesehatan kulit pada ketiak. Karena, deodoran alcohol dapat memicu infeksi kulit pada ketiak.

  1. Hindari penggunaan deodoran yang mengandung pemutih

Perhatikan kandungan deodoran, deodoran yang mengandung pemutih dapat menyebabkan iritasi pada kulit ketiak terutama bagi Anda yang berkulit sensitif.

  1. Gunakan deodoran yang senada dengan parfum

Sebaiknya Sahabat #RSColumbiaAsia gunakan deodoran yang senada dengan parfum, agar aroma parfum yang dikeluarkan tetap maksimal.

  1. Pilihlah deodoran yang sesuai kebutuhan

Pilihlah deodoran sesuai kebutuhan dengan mementingkan nilai kemanan, kenyamanan dan kesehatan.

  1. Pilih brand dari produk deodoran yang bereputasi baik

Sebelum memilih produk deodoran, sebaiknya Sahabat #RSColumbiaAsia melakukan mini riset terkait dengan informasi produk, kandungan, dan izin BPOM.
Nah, bagi Sahabat #RSColumbiaAsia yang memiliki kekhawatiran akan kandungan deodoran, bisa juga loh untuk beralih ke deodoran alami yang tidak beracun, efektif dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh. diantaranya dengan penggunaan deodoran alami yaitu:

  1. Penggunaan baking soda

Baking soda dapat menjadi deodoran alami, hanya dengan mencampurkan air hangat kemudian dioleskan pada area ketiak. Namun, penggunaan baking soda perlu diperhatikan bagi Sahabat #RSColumbiaAsia yang memiliki kulit sensitif karena berisiko mengalami dermatitis.

  1. Penggunaan tea tree oil

Tea tree oil dapat dijadikan sebagai deodoran alami karena mengandung zat antibakteri yang berperan membunuh bakteri penyebab bau badan tak sedap. Caranya hanya dengan mengoleskan tea tree oil pada area ketiak.

  1. Penggunaan cuka apel

Cuka apel dapat dijadikan deodoran alami karena dapat membunuh bakteri penyebab bau keringat, caranya hanya dengan mencampurkan cuka apel dengan air, kemudian masukkan kedalam botol spray dan semprotkan pada area ketiak.

  1. Penggunaan minyak kelapa

Minyak kelapa dapat dijadikan deodoran alami karena mengandung zat antibakteri dan zat antivirus bernama asam laurat. Asam laurat dapat membantu membasmi bakteri yang hidup di area tubuh yang hangat dan lembap serta memproduksi bau badan tidak sedap. Caranya hanya dengan mencampurkan minyak kelapa dan baking soda, kemudian oleskan pada area ketiak.
 
Artikel ini telah di review oleh dr. Silvi Suhardi, SpKK dari RS. Columbia Asia Pulomas
 
 
References.
Mandriota, Stefano. 2017. A Case Control Study Adds a New Pieces to The Alumunium/Breast Cancer Puzzle. Ebiomedicine Journal of Elsevier, 22(1): 22-23. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5552203/
https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/kanker-payudara/benarkah-deodoran-menyebabkan-kanker-payudara/
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3444560/pakai-deodoran-bisa-picu-kanker-mitos-atau-fakta
https://www.theguardian.com/lifeandstyle/shortcuts/2016/feb/03/dangerous-deodorant-kill-armpit-bacteria-antiperspirants
https://www.cleure.com/Antiperspirant-Deodorant-Health-Risk-s/244.htm
https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/myths/antiperspirants-fact-sheet
https://www.cheatsheet.com/health-fitness/is-deodorant-bad-for-your-health.html/
https://www.livescience.com/64720-aluminum-antiperspirant-deodorant-cancer.html