Lari Rutin Cegah Migrain

September 14, 2017



Kebanyakan masyarakat belum mengetahui, klasifikasi nyeri kepala, apakah termasuk migrain, nyeri kepala akibat penggunaan zat atau pemutusan penggunaan zat, infeksi, gangguan homeostatis, gangguan tulang tengkorak, mata, leher, hidung, sinus, gigi, nyeri neuopatri kranial, nyeri kepala lain  ataupun nyeri kepala yang disebabkan gangguan psikiatrik.
Dokter spesialis saraf RS Columbia Asia Semarang, Dr. Hamidah Msi.Med, SpS mengatakan migrain merupakan nyeri kepala sedang hingga parah yang terasa berdenyut yang biasanya hanya mengenai sebelah sisi kepala saja. Adapun ciri-ciri terkena migrain diantaranya, memiliki pola waktu antara 4 sampai 72 jam. Karakeristik sakit kepala sering secara unilateral dan berdenyut. Berintensitas sedang sampai parah. Gejala yang menyertainya mual bahkan sampai muntah. Hal ini tentu amat menggangu dan bisa menghambat segala aktivitas penderita.

“Migrain dibedakan menjadi beberapa kelas yaitu, migrain tanpa aura, migrain dengan aura, komplikasi migrain, kronik migrain, kemungkinan migrain dan sindrom episodik yang mungkin terkait dengan migrain,” katanya.

Pada sebagian orang, migrain hanya muncul beberapa kali dalam setahun, namun ada pula penderita migrain yang mengalaminnya beberapa kali dalam seminggu, pada kasus tertentu, nyeri migrain juga bisa menyerang di kedua sisi kepala bahkan terasa nyeri hingga ke leher. “Tidak ada identifikasi kusus untuk migrain, dan cara mengidentifikasinya dengan menyesuaikan gejala pada keriteria migrain,” katanya.

Untuk migrain sendiri memiliki dua subtipe utama yaitu, yang pertama migrain tanpa aura, dimana nyeri kepala berulang dengan manifestasi serangan selama 4 – 72 jam dengan karakteristik nyeri kepala unilateral, berdenyut, intensitas sedang atau berat, akan bertambah berat dengan aktivitas fisik yang rutin dan diikuti dengan nausea dan fonofobia atau fotofobia. Yang kedua migrain dengan aura yaitu, serangan yang berulang, berlangsung beberapa menit, disertai gejala gangguan visual unilateral yang reversible, gangguan sensorik atau gejala susunan saraf pusat yang lain yang biasanya timbul secara bertahap dan biasanya diikuti oleh nyeri kepala dan gejala lain yang terkait dengan migrain.

“Migrain dapat terjadi karena beberapa faktor diantaranya, stres, gangguan tidur, suara, cuaca, kelelahan, visual, puasa, bau, hormonal dan juga alkohol,” katanya.

Bagi kebanyakan orang, migrain tergolong penyakit yang umum, dan tanpa penanganan yang khusus akan sembuh. Namun pendapat tersebut tidak dibenarkan, hendaknya bila terjadi migrain disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Apabila terjadi serangan migrain lebih dari lima hari dalam sebulan, dan rasa sakitnya sudah tidak dapat diatasi dengan obat-obatan yang dijual bebas maka wajib untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter.

Tujuan manajemen migraine selain untuk mengembalikan pasien ke kondisi normal juga mengurangi ketidakmampuan beraktivitas, mengurangi frekuensi serangan migrain dan keparahan, meningkatkan kualitas hidup pasien, mendidik pasien dengan swakelola penyakit, menggunakan penggunaan obat yang tepat dan mencegah penggunaan obat berlebihan.
Migrain dapat dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat, olahraga teratur, pola makan sehat, batasi konsumsi minuman keras dan kafein. Menurut studi pasien migrain untuk berlatih sepeda selama 40 menit dalam tiga kali seminggu dalam sebulan dapat mengurangi risiko migrain. Selain itu juga harus mengenali dan menghindari pemicu migrain, misalnya stress dan kelelahan dan  menghindari konsumsi obat-obatan tertentu, terlebih pada wanita yang biasa mengkonsumsi pil KB, karena didalamnya terdapat hormon esterogen yang dapat memicu migrain. Dengan beristirahat di ruangan gelap dan sunyi, terkadang menjadi salah satu solusi disaat migrain datang.

Sumber:

Dr. Hamidah Msi.Med, SpS
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang

Jl. Siliwangi No. 143, Semarang
Jawa Tengah, Indonesia
Kode Pos 50145
Tel. +6224 762 9999
E: customercare.semarang@columbiaasia.com